Dalam rangka memperkuat ekonomi kerakyatan, Bupati Karawang, Drs. H. Dadang S. Muchtar memberikan bantuan pinjaman bergulir tanpa bunga bagi para pedagang empyakan di Pasar Cilamaya dan Pasar Rengasdengklok, Rabu (2/1). Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu para pedagang empyakan di pasar-pasar terbebas dari jeratan rentenir. Bantuan diberikan kepada 100 pedagang empyakan di masing-masing pasar dengan nominal sebesar Rp. 500 ribu.
Tidak hanya Pasar Cilamaya dan Rengasdengklok saja, sejumlah pedagang dipasar lain pun akan diberikan bantuan serupa. Menurut data dari Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Karawang, selain Pasar Cilamaya dan Rengasdengklok, pasar lainnya adalah Pasar Karawang, Pasar Johar, Pasar Cikampek I dan Pasar Cikampek II.
Tercatat sebanyak Rp. 250 juta dari APBD 2007 disiapkan Pemerintah Kabupaten Karawang untuk dibagikan kepada para pedagang di keenam pasar tersebut. Pasar Cilamaya, Pasar Rengasdengklok, Pasar Karawang dan Pasar Johar akan mendapatkan alokasi masing-masing sebesar Rp. 50 juta, sedangkan Pasar Cikampek I dan II masing-masing akan mendapatkan alokasi sebesar Rp. 25 juta.
Mekanisme pemberian bantuan sendiri tidak dikelola oleh Bagian Ekonomi, melainkan akan dikelola oleh para Kepala UPTD Pasar (biasa dikenal dengan nama Mantri Pasar) yang bersangkutan karena mereka lebih mengenal para pedagang yang ada dipasarnya. Untuk itu, selain menarik retribusi, para Kepala UPTD Pasar akan bertindak sebagai kolektor cicilan para pedagang.
Bupati Dadang S. Muchtar dalam kesempatan menyatakan bahwa bantuan ini merupakan salah satu bentuk upaya dari Pemerintah Kabupaten Karawang untuk membebaskan para pedagang kecil dari jeratan rentenir. “Hampir setiap pasar saat ini telah dikuasai rentenir, untuk itu Pemkab berupaya membantu para pedagang melalui para Mantri Pasar,” jelas Bupati.
Lebih lanjut Bupati menjelaskan bahwa modal yang dibutuhkan oleh para pedagang empyakan sebenarnya tidak terlalu besar, yaitu berkisar antara ratusan ribu rupiah hingga Rp. 1 juta saja. “Tetapi bila mereka meminjam kepada rentenir tentunya utang mereka akan beranak pinak, atau bahkan bercucu,” gurau Bupati seraya kembali menegaskan bahwa bantuan yang diberikan pemerintah daerah merupakan bantuan pinjaman tanpa bunga.
Oleh karena itu, Bupati berharap para pedagang empyakan yang mendapatkan bantuan saat ini dapat mencicil pinjaman mereka dengan baik. Konsep ini merupakan ujicoba, dimana jumlah bantuan akan ditingkatkan bila program dapat berjalan baik di tahun 2008. “Tapi tolong juga harus niatkan dengan ikhlas untuk kembalikan pinjaman, bila bagus ke depan akan ditambah,” jelas Bupati seraya menginstruksikan para Mantri Pasar untuk tidak memotong bantuan yang diberikan kepada pedagang..
Abdul Ghofur, pedagang mie ayam di Pasar Cilamaya yang mendapatkan bantuan dari Bupati tersebut sangat senang dan bersyukur terhadap upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah kepada para pedagang. Hal ini karena pengalamannya saat di-PHK dari sebuah restoran empat tahun silam, dirinya meminjam uang dari rentenir sebesar Rp. 200 ribu. “Namun jumlah yang harus dibayarkan menjadi Rp. 250 ribu,” tandasnya seraya menambahkan bahwa dirinya optimis dapat mengembalikan bantuan yang diterimanya hari ini dapat lunas 3 bulan mendatang.
Lain halnya dengan Ir. Atang Suwarno, pedagang kain di Pasar Rengasdengklok yang mewakili teman-temannya sesama pedagang. Menurutnya, para pedagang di Pasar Rengasdengklok yang tidak mendapatkan bantuan bertanya-tanya apakah mereka akan mendapatkan bantuan serupa. Hal ini karena di Pasar Rengasdengklok terdapat 520 pedagang kios/ruko, 1.499 pedagang kaki lima, dan 480 pedagang empyakan. “Tetapi yang mendapatkan bantuan hanya 100 pedagang empyakan saja, bagaimana dengan sisanya,” tanyanya.
Hal senada diungkapkan oleh Ust. Ade Aburohman, pedagang kelontong di Pasar Cilamaya. Saat ini terdapat 200 pedagang empyakan di Pasar Cilamaya, dan 100 diantaranya telah mendapatkan bantuan. “Untuk pedagang yang belum mendapatkan pinjaman kapan akan mendapatkan giliran,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Dadang S. Muchtar meminta para pedagang untuk bersabar. Hal ini karena bantuan saat ini hanya uji coba, dan bila berhasil dengan baik akan ditingkatkan di tahun-tahun kedepan.
Bupati juga menambahkan bahwa pada awalnya pihaknya berencana menganggarkan bantuan kepada para pedagang sebesar Rp. 5 miliar. Namun karena perbedaan konsep, maka alokasi anggaran tersebut diberikan untuk penguatan modal para lembaga perkreditan kecamatan (PK) untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Untuk bantuan pinjaman tanpa bunga melalui Mantri Pasar sendiri baru dialokasikan Rp. 250 juta sebagai uji coba, dan akan ditambah bila program berjalan dengan baik” jelasnya.
Pasar Tradisional Vs. Minimarket
Disisi lain, munculnya minimarket-minimarket hingga ke pelosok desa disinyalir membuat pasar tradisional kalah bersaing. Di samping harganya yang pasti, kondisi lingkungan minimarket yang bersih, rapi dan ber-ac membuat para pembeli lebih nyaman berbelanja di minimarket. Hal ini berlawanan dengan kondisi di pasar tradisional yang biasanya kotor bahkan cenderung kumuh membuat para pembeli enggan berbelanja di pasar tradisional.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bupati mengajak para pedagang pasar untuk berembuk bersama-sama mencari solusi dan pemecahan dari permasahalan tersebut. Oleh karena itu, Bupati menjelaskan bahwa pihak Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) sedang melakukan uji kelayakan terhadap pasar-pasar yang ada di Kabupaten Karawang. Bupati berharap pasar yang ada di Karawang nantinya dapat bersih, rapi dan tidak kumuh. Hal ini seperti salah satu pasar di daerah Rangkasbitung, Banten, yang modern, rapi dan bersih serta tidak kumuh.
Namun demikian, Bupati mengingatkan para pedagang untuk tidak resah dalam menanggapi hal tersebut. Hal ini karena dirinya akan mengajak para pedagang untuk berembuk terlebih dahulu terhadap bagaimana konsep pasar yang baik. “Tidak ada pemaksaan, kita akan bermusyawarah terlebih dahulu untuk bersama-sama mencari yang terbaik,” jamin Bupati.
Bupati juga menambahkan bahwa bila memang perlu dibangun pasar yang baru, dirinya menjamin bahwa harga kios yang akan dibangun disesuaikan dengan kemampuan para pedagang melalui hasil rembukan tersebut. “Untuk bisa bersaing dengan minimarket, maka kita harus perbaharui pasar yang kumuh, namun tentunya semampunya pedagang,” tambahnya.